Lebak – Pihak SDN 3 Lebaksitu memberikan penjelasan terkait kondisi bangunan sekolah yang menjadi perhatian masyarakat akibat sejumlah fasilitas yang mengalami kerusakan.
Pihak sekolah menyampaikan bahwa kondisi bangunan sekolah memang sudah cukup tua karena sejak pertama kali dibangun pada tahun 2007 belum pernah mendapatkan rehabilitasi dari pemerintah.
“Kondisi bangunan memang sudah tua. Dari awal dibangun tahun 2007 belum pernah dilakukan rehabilitasi oleh pemerintah,” ujar pihak sekolah dalam keterangannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekolah juga mengaku telah beberapa kali mengajukan permohonan rehabilitasi bangunan sejak tahun 2022 hingga 2023. Namun hingga saat ini, usulan tersebut disebut belum mendapatkan realisasi.
“Kami sudah mengajukan rehab sejak tahun 2022/2023 dan sampai saat ini belum ada realisasi,” lanjutnya.
Terkait sorotan masyarakat mengenai penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), pihak sekolah menegaskan bahwa dana tersebut memiliki keterbatasan dalam penggunaannya, khususnya untuk rehabilitasi berat bangunan sekolah.
Menurut pihak sekolah, rehabilitasi berat tidak dapat dilakukan menggunakan Dana BOSP apabila anggarannya melebihi ketentuan yang diatur pemerintah.
“Kami tidak berwenang melakukan rehab berat yang anggarannya di atas 20 persen dari dana BOSP,” jelas pihak sekolah.
Selain itu, pihak sekolah menyebut jumlah dana yang diterima setiap tahun juga relatif terbatas karena jumlah siswa di sekolah tersebut hanya berkisar antara 110 hingga 125 orang. Di sisi lain, sekolah juga masih harus membiayai kebutuhan operasional lain, termasuk honor untuk empat guru honorer.
“Kami hanya baru bisa melakukan perawatan ringan,” tambahnya.
Pihak sekolah berharap pemerintah dapat segera memberikan perhatian terhadap kondisi bangunan SDN 3 Lebaksitu agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih nyaman dan aman bagi para siswa.
Harapan tersebut terus disampaikan melalui berbagai upaya pengajuan bantuan, baik kepada Dinas Pendidikan, melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) desa dan kecamatan, hingga proposal langsung kepada Kementerian PUPR.
“Kami tidak pernah bosan untuk berupaya mengajukan bantuan baik kepada Dinas Pendidikan maupun melalui musrenbang desa dan kecamatan, bahkan proposal langsung ke Kementerian PUPR,” ungkap pihak sekolah.
Di akhir keterangannya, pihak sekolah juga menyampaikan apresiasi kepada media dan masyarakat yang telah memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah mereka.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman media yang turut peduli terhadap kondisi bangunan sekolah kami,” tutupnya.
Penulis : Denis














