Huntara Bertahun-tahun, Huntap Tak Jelas: Warga Lebak Menunggu Kepastian

- Kontributor

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto:Deretan huntara di Kecamatan Lebakgedong tampak memprihatinkan, mencerminkan ketidakpastian nasib warga korban bencana yang hingga kini belum mendapatkan hunian tetap.

Foto:Deretan huntara di Kecamatan Lebakgedong tampak memprihatinkan, mencerminkan ketidakpastian nasib warga korban bencana yang hingga kini belum mendapatkan hunian tetap.

Lebak – Sorotan media sosial kembali menjadi pemicu utama bergeraknya pemerintah. Persoalan kemanusiaan warga terdampak bencana di Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, baru memperoleh perhatian serius setelah isu tersebut viral di ruang publik.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai kehadiran dan komitmen negara sebelum tekanan opini publik menguat.
Wakil Ketua Umum FERADI XV WPI, Fam Fuk Tjhong, menegaskan bahwa persoalan hunian sementara (huntara) dan ketidakjelasan pembangunan hunian tetap (huntap) bukanlah masalah baru.

Warga korban bencana telah lama hidup dalam kondisi darurat, namun penanganan yang dijanjikan kerap berhenti pada tataran wacana dan pernyataan normatif.
“Ini bukan kejadian mendadak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wajar jika publik bertanya, sebelum viral pemerintah ke mana saja? Warga sudah bertahun-tahun menunggu kepastian,” ujar Fam Fuk Tjhong, Rabu (14/1/2026).

Ia menilai, pola penanganan yang baru bergerak setelah isu menjadi viral mencerminkan lemahnya kepekaan pemerintah terhadap krisis kemanusiaan.

Menurutnya, negara seharusnya hadir sejak awal, bukan menunggu tekanan publik untuk bertindak.

Huntara Berlarut, Kepastian Huntap Tak Kunjung Datang

Di Lebakgedong, warga korban bencana masih bertahan di hunian sementara dengan kondisi yang jauh dari layak. Akses jalan yang sulit, fasilitas dasar yang terbatas, serta ketidakjelasan pembangunan hunian tetap menjadi potret nyata jurang antara janji kebijakan dan realitas di lapangan.

Fam Fuk Tjhong menilai, keterlambatan ini tidak bisa terus dibenarkan dengan alasan teknis maupun kendala koordinasi antarinstansi. Semakin lama persoalan dibiarkan, semakin besar pula beban sosial dan psikologis yang harus ditanggung masyarakat.

Kontras Anggaran dan Skala Prioritas

Sorotan tajam juga diarahkan pada kebijakan anggaran Pemerintah Kabupaten Lebak. Di tengah ketidakpastian hunian warga Lebakgedong, pemerintah justru mengalokasikan anggaran sekitar Rp4,9 miliar untuk proyek revitalisasi Alun-alun Rangkasbitung.

Baca Juga  Sekda Kabupaten Sukabumi Pimpin Rakor Persiapan Gelar Budaya Rakyat

Fam Fuk Tjhong menegaskan bahwa pembangunan ruang publik pada dasarnya bukan hal keliru. Namun, kebijakan tersebut menjadi problematik ketika kebutuhan dasar warga terdampak bencana belum terselesaikan.

“Ini soal skala prioritas. Ketika rakyat masih tinggal di hunian tidak layak, wajar jika publik mempertanyakan urgensi proyek-proyek yang lebih bersifat simbolik,” tegasnya.

DPRD Lebak dan Pemprov Banten Ikut Disorot
Kritik tidak hanya diarahkan kepada eksekutif, tetapi juga kepada DPRD Kabupaten Lebak yang dinilai belum maksimal menjalankan fungsi pengawasan.

Sebagai representasi rakyat, DPRD seharusnya memastikan kebijakan dan penggunaan anggaran benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat, khususnya korban bencana.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Banten juga dinilai belum menunjukkan peran yang terasa nyata di lapangan. Koordinasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten kerap disampaikan melalui pernyataan resmi, namun dampaknya dinilai belum signifikan bagi warga terdampak.

“Yang dibutuhkan bukan sekadar kunjungan atau pernyataan. Warga membutuhkan kepastian, keberlanjutan, dan keberanian pemerintah dalam mengambil keputusan,” ujar Fam Fuk Tjhong.

Catatan Kritis atas Pola Kepedulian Pemerintah

Menurut Fam Fuk Tjhong, fenomena pemerintah yang baru bergerak setelah isu viral merupakan peringatan serius bagi kualitas tata kelola pemerintahan. Jika pola semacam ini terus berulang, kepercayaan publik terhadap institusi negara dikhawatirkan akan semakin terkikis.

“Ketika kepedulian negara bergantung pada viral atau tidaknya sebuah persoalan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya citra pemerintah, melainkan keadilan sosial dan rasa aman warga,” pungkasnya.
(David)

Follow WhatsApp Channel journalmedianews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kondisi Sekolah Tak Terawat, Realisasi Dana BOS SDN Pasirloa Dipertanyakan
SPPG Yayasan Boga Pangan Gemilang Diduga Cemari Lingkungan Warg
Tebing Longsor Putus Akses Jalan Citorek–Ciparay, Mobilitas Warga Lebak Terganggu
Dapur SPPG di Cigombong Dikeluhkan Warga karena Diduga Belum Miliki IPAL
IRONIS! Beban Fotokopi Menghantui Pelayanan Publik di Tengah Gencarnya Digitalisasi
Ribuan Warga Badui Padati Pendopo Lebak dalam Ritual Seba 2026
Ratusan Jamaah Haji Asal Ponorogo Mulai Diberangkatkan, Suasana Haru Warnai Pelepasan
Konter XXD Diduga Gunakan Data Orang Lain untuk Aktivasi Kartu Seluler

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 08:11 WIB

Kondisi Sekolah Tak Terawat, Realisasi Dana BOS SDN Pasirloa Dipertanyakan

Rabu, 13 Mei 2026 - 07:31 WIB

SPPG Yayasan Boga Pangan Gemilang Diduga Cemari Lingkungan Warg

Rabu, 13 Mei 2026 - 03:02 WIB

Tebing Longsor Putus Akses Jalan Citorek–Ciparay, Mobilitas Warga Lebak Terganggu

Senin, 11 Mei 2026 - 06:36 WIB

Dapur SPPG di Cigombong Dikeluhkan Warga karena Diduga Belum Miliki IPAL

Jumat, 1 Mei 2026 - 07:31 WIB

IRONIS! Beban Fotokopi Menghantui Pelayanan Publik di Tengah Gencarnya Digitalisasi

Berita Terbaru