Rupiah Melemah Tipis, Dipengaruhi Ketegangan Dagang AS-Uni Eropa dan Spekulasi Suku Bunga The Fed

- Kontributor

Selasa, 22 Juli 2025 - 12:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 22 Juli 2025 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (22/7/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,02 persen atau tiga poin ke level Rp16.319 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS yang didorong oleh perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi di negara tersebut. Salah satu faktor utamanya adalah sengketa tarif perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang kembali memanas.

“Perundingan tarif antara AS dan Uni Eropa gagal mencapai kemajuan,” ujar analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi. Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengancam tetap mengenakan tarif sebesar 30 persen terhadap produk-produk dari Uni Eropa. Sebagai respons, negara-negara di Benua Biru juga bersiap mengenakan tarif balasan terhadap AS.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain isu tarif, pasar global juga sedang menyoroti kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada Juli 2025. Spekulasi ini semakin menguat setelah munculnya probabilitas sebesar 97 persen bahwa bank sentral AS tersebut akan menahan suku bunga acuannya.

Namun, ketidakpastian pasar turut diperparah oleh kondisi politik di AS. Ketua The Fed, Jerome Powell, tengah menghadapi tekanan politik setelah anggota DPR AS, Anna Paulina, melaporkannya ke Departemen Kehakiman atas dugaan pemalsuan informasi terkait renovasi kantor The Fed senilai USD2,5 miliar. Kasus ini menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas kebijakan moneter AS.

Di sisi lain, kondisi ekonomi global juga menjadi sorotan para pelaku pasar. Ibrahim menilai, ketidakpastian akan terus berlanjut hingga 2026, baik dari faktor eksternal maupun internal. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) disebut sangat berhati-hati dalam membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan, yang diperkirakan berada di kisaran 4,7 hingga 5,5 persen.

Baca Juga  Antusiasme Tinggi! Penambahan Kuota Mudik Gratis 2024 untuk 10.000 Orang

“Perlambatan ekonomi di negara mitra dagang seperti AS dan Tiongkok bisa mengganggu kinerja ekspor nasional,” tambah Ibrahim.

Follow WhatsApp Channel journalmedianews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rakernis Bareskrim, Kapolri Soroti Ancaman Kejahatan Transnasional
Mensesneg Tegaskan BBM Subsidi dan Non-Subsidi Belum Naik
DPR Desak Penguatan Force Protection Usai Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Rupiah Melemah ke Rp17.041 per Dolar AS, Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Ketum FRIC Instruksikan Jajaran Se-Indonesia Awasi Dapur MBG, Tegaskan Hak Rakyat Tidak Boleh Dikurangi
Laporan Reformasi Polri Segera Diserahkan ke Presiden Prabowo, Yusril: Tebalnya Ribuan Halaman
Menhub: Puluhan Ribu Armada Disiapkan Layani Mudik Lebaran 2026
PBNU Resmi Instruksikan Qunut Nazilah Respon Agresi Militer Israel-As ke Iran
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:16 WIB

Rakernis Bareskrim, Kapolri Soroti Ancaman Kejahatan Transnasional

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:07 WIB

Mensesneg Tegaskan BBM Subsidi dan Non-Subsidi Belum Naik

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:03 WIB

DPR Desak Penguatan Force Protection Usai Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:00 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.041 per Dolar AS, Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sabtu, 7 Maret 2026 - 13:53 WIB

Ketum FRIC Instruksikan Jajaran Se-Indonesia Awasi Dapur MBG, Tegaskan Hak Rakyat Tidak Boleh Dikurangi

Berita Terbaru

⚖️ Hukum & Kriminal

PT Banten Tegaskan Kehadiran dalam Sidang Putusan Banding Merupakan Hak Para Pihak

Senin, 29 Jun 2026 - 15:26 WIB